Rabu, 12 Desember 2018

Ketahui Potensi Dalam Berbisnis Ritel | Konsultan Bisnis Dan Manjemen


JASA KONSULTAN RITEL

BERPENGALAMAN, +62 813-9864-6177, Potensi Berbisnis Minimarket

Konsultan, Konsultan Ritel, Manajemen Konsultan Indonesia, Konsultan Bisnis Ritel, Bisnis Ritel Modern, Bisnis Swalayan, Potensi Bisnis Retail, Konsultan Bisnis di Sidoarjo, Konsultan Bisnis di Surabaya, Konsultan Bisnis di Malang.


Potensi Bisnis Minimarket Di Indonesia

Potensi bisnis minimarket Indonesia 2018  diprediksi masih akan tertekan. Para pelaku retail mematok pertumbuhan bisnis ritel Indonesia mencapai 9 %, meskipun lebih rendah dari beberapa tahun lalu angka ini tentu bukan sekedar isapan jempol, merunut data Aprindo pertumbuhan retail 2018 optimis berada diangka 9%, predikisi ini cukup optimis mengingat tahun 2017 realisasi pertumbuhan retail hanya dikisaran 3,5%. Salah satu jenis usaha ritel yang masih sangat prospektif adalah adalah minimarket, perubahan gaya hidup modern mendorong konsumen lebih suka berbelanja kebutuhan retail di tempat terdekat, Tahun lalu minimarket masih bisa tumbuh 7 % jauh melewati hypermarket yang hanya dikisaran 3 %.  Pengusaha terlihat lebih optimis di tahun ini, alasanya tentu karena perbaikan kondisi ekonomi yang di proyeksikan mencapai 5,1% sampai dengan 5,5 % . Omzet ritel modern nasional pada 2017 diperkirakan hanya tumbuh mencapai 3,5%. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) memperkirakan nilai penjualan ritel modern 2017 mencapai 221 triliun.

Permintaan produk terutama makanan dan minuman masih menjadi kontributor utama (>60%). Beberapa faktor menjadi katalis positif pertumbuhan ritel nasional ke depan. Meningkatnya pendapatan masyarakat, meningkatnya populasi penduduk dengan bonus demografi dan pertumbuhan masyarakat yang pesat, urbanisasi, tingkat optimisme konsumen yang kuat, dan pertumbuhan properti komersial menjadi driver permintaan industri ritel. Menurut AC Nielsen, 48% dari total belanja berasal dari masyarakat Proporsi masyarakat sendiri terhadap total populasi Indonesia diperkirakan meningkat dari sebesar 56,5% pada 2010 menjadi sebesar 68,4% pada 2015 dan sebesar 76,1% pada 2020.

Baca juga Apa Itu Ritel Mix?

Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) Indonesia masih cukup kuat dan relatif tinggi dibandingkan negara lain. Global Consumer Confidence Report 2Q14 yang dirilis AC Nielsen menunjukkan IKK Indonesia berada pada level 125 padak kuartal IV 2017, di kuartal III tahun 2017 bahakan sempat berada di angka 127. Sebelumnya, IKK Indonesia bahkan menempati posisi tertinggi selama 5 kuartal berturut-turut (1Q13-1Q14) di antara 60 negara yang disurvei, meskipun turun tetapi IKK indonesia masih menempati posisi 3 besar Indeks Kepercayaa Konsumen Global. IKK yang dirilis Bank Indonesia juga menunjukkan trend penguatan. IKK Agustus 2014 yang sebesar 120,2 merupakan level tertinggi sejak akhir 2012.

Perkembangan ritel di indonesia 2018 memang masih cukup berat,  survei Bank Indonesia menunjukan adaranya koreksi terhadap penjualan ritel diawal tahun 2018, Indeks Penjualan Riil (IPR) terkontraksi 1,8% (yoy), setelah pada bulan sebelumnya tumbuh sebesar 0,7% (yoy). Penurunan penjualan ritel ini sebenarnya wajar terjadi karena berakhirnya hari raya Natal dan tahun baru. Tercatat penurunan penjualan terutama terjadi pada kelompok durable goods berupa peralatan informasi dan komunikasi serta peralatan rumah tangga lainnya. Sementara itu penjualan kelompok barang  sandang, barang budaya dan rekreasi, serta suku cadang dan aksesori masih mencatatkan peningkatan. Penjualan eceran diperkirakan akan kembali meningkat pada Februari 2018 dengan pertumbuhan IPR sebesar 1,0% (yoy). Perbaikan penjualan eceran diperkirakan didorong oleh peningkatan penjualan kelompok makanan, minuman, dan tembakau, sandang, suku cadang dan aksesori, serta barang lainnya. Sementara , penjualan kelompok durable goods masih relatif terbatas. Hasil Survei juga mengindikasikan menurunnya tekanan harga di tingkat pedagang eceran dalam tiga bulan mendatang. Indikasi tersebut tercermin dari penurunan Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) 3 bulan menjadi 155,1 dari 158,2 pada bulan sebelumnya.

Potensi bisnis minimarket semakin terlihat jelas ketika melihat Share tersebut meningkat dari 25% pada 2002 menjadi 44% pada 2012. Pertumbuhan ritel modern terutama terjadi pada format minimarket, convenience store, dan hypermarket dimana share perdagangan minimarket mengalami kenaikan tertinggi. Dilihat dari perkembangan jumlah gerai selama 10 tahun terakhir, format minimarket tumbuh rata-rata 17,4%, hypermarket 17,9%, sedangkan format supermarket mulai cenderung ditinggalkan dengan pertumbuhan gerai rata-rata 3% per tahun.

Jika menilik percepatan penetrasi maka potensi bisnis minimarket di Indonesia lebih besar dibanding negara tetangga. Penetrasi jumlah gerai ritel modern Indonesia masih lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya seperti Singapura, Thailand, dan Malaysia. Masing-masing format ritel modern memiliki pemain utama. Pesatnya perkembangan format minimarket (termasuk convenience store) didorong oleh ekspansi usaha Alfamart dan Indomaret yang menguasai sekitar 87% pangsa pasar. Bagi saya fakta ini adalah propek bisnis minimarket bagi pengusaha lokal.

Untuk format hypermarket, Top 3 player yaitu Carrefour, Hypermart dan Giant menguasai sekitar 97% pangsa pasar. Sementara untuk department store, Matahari Department Store dan Ramayana menguasai sekitar 55% pangsa pasar, disusul Mitra Adiperkasa dengan 8% pangsa pasar. Pada format supermarket yang sangat terfragmentasi, tidak terdapat satu pemain dengan pangsa pasar di atas 7%. Super Indo dan Hero merupakan pemain utama pada format ini dengan menguasai sekitar 12% pangsa pasar.

A.T. Kearney’s 2014 Global Retail Development Index™ (GRDI) menempatkan Indonesia pada peringkat 15 negara berkembang untuk tujuan investasi ritel, naik dari peringkat 19 tahun lalu. Negaranegara Asia yang masuk dalam Top 30 GRDI ini selain Indonesia adalah China, Malaysia, Sri Lanka, India, Filipina, dan Vietnam. Pasar ritel Indonesia masih menarik bagi para peritel internasional. Hal ini dibuktikan dengan terus masuknya peritel kelas dunia. Beberapa yang akan masuk pada 2014 adalah IKEA (Swedia), Courts Asia (Singapura), Parkson Group (Malaysia), dan Central Department Store (Thailand).

Biaya tenaga kerja menjadi porsi terbesar biaya operasional peritel (~30%). Bersama biaya sewa gedung dan listrik (utilitas), ketiganya menyumbang 60%-80%. Untuk peritel yang menjual produk dengan import content tinggi, fluktuasi Rupiah juga menjadi concern. Kajian kami menunjukkan setiap 1% depresiasi Rupiah akan menyebabkan kenaikan COGS industri ritel sebesar 2,7% pada satu triwulan berikutnya.

E-commerce akan semakin berkembang. Tingginya persaingan usaha dan meningkatnya biaya operasional ditambah semakin ketatnya regulasi yang ada seperti ketentuan jumlah maksimal outlet waralaba toko modern sebanyak 150 outlet dan aturan proporsi produk lokal yang dijual paling sedikit 80% dari jumlah dan jenis barang yang diperdagangkan diperkirakan mendorong perkembangan e-commerce ke depan seiring kemajuan teknologi dan berkembangnya penggunaan internet di Indonesia. Nilai transaksi di Indonesia tahun 2013 diperkirakan sebesar USD1,8 miliar.

Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) mengatakan pelemahan rupiah terhadap dolar AS menggerus pertumbuhan industri makanan dan minuman (mamin) olahan nasional. Pertumbuhan industri mamin olahan semester II tahun ini kemungkinan hanya berkisar 6-7%, lebih rendah dibandingkan semester I sebesar 9%. Omzet industri mamin olahan nasional hingga akhir 2014 tetap ditargetkan naik 6-7% dari tahun 2013 yang sebesar Rp 942 triliun. Perlambatan omzet juga dipengaruhi oleh turunnya daya beli petani komoditas perkebunan akibat turunnya harga komoditas tersebut.


>>> Retail / Ritel : Segala jenis toko ; Toko Buku, Toko Bangunan, Minimarket, Supermarket, Hypermarket, Toko Buah, Toko Obat / Apotik, Baby Shop, Pet Shop, Toko Roti / Bakery, Dll.

>>> Manufacture / Pabrik : Segala Jenis Pabrik ; Pabrik Makanan & Minuman, Pabrik Plastik, Pabrik Kertas, Dll.
>>> Service : Hotel, Restoran, Printing, Cafe, FnB, F & B, Laundry, Wedding, Fashion Design, Barber Shop, Dll.
>>> Start Up : Segala Jenis Industri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Begini Cara Memutar Modal agar Bisnis Makin Untung | Konsultan Bisnis Dan Manajemen

JASA KONSULTAN RITEL  TERPERCAYA, +62 813-9864-6177, Begini Cara Memutar Modal agar Bisnis Makin Untung Konsultan Bisnis Ritel, Konsul...